Salah Pilih Jurusan Sekolah
Suatu hari ada orang tua bersama anaknya, mahasiswa fakultas hukum
semester akhir salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta,
datang ke rumah. Sepasang orang tua ini sedang bingung karena anak
laki-lakinya yang hampir menamatkan pendidikannya tidak mau mengerjakan
tugas akhir sebagai syarat kelulusannya. Padahal jika sudah sampai batas
waktu akhir yang telah di tentukan, dia terancam drop out. Mereka tidak
mengetahui alasan anak laki-lakinya tersebut tiba-tiba mogok, tidak mau
menamatkan kuliahnya.
Setelah panjang lebar berbicara dengan anaknya secara terpisah, akhirnya dapat ditemukan akar permasalahnnya.
“ Bapak, Ibu…setiap anak memiliki ciri yang berbeda-beda, baik dari
sifat, karakter, juga kekuatan dan kelemahannya. Anak Ibu memiliki
kecenderungan sifat agak pendiam, kurang suka bergaul, menyukai hal-hal
yang bersifat teknis, suka berada atau bekerja sendiri dalam ruangan,
kurang menyukai pekerjaan yang berhadapan dengan manusia yang
mengandalkan kemampuan komunikasi, dan banyak lagi ciri lainnya.
Ciri-ciri inilah yang sebenarnya bisa dijadikan petunjuk dalam
mengarahkan bidang yang sesuai dengan karier anak ibu. Sayangnya selama
ini tidak ada seorangpun yang bisa mengidentifikasi petunjuk-petunjuk
berharga ini, tidak pendidik, tidak juga sekolah, atau orang tuanya”.
“Dari petunjuk lebih dalam, anak ibu sangat tidak menyukai bidang
hukum seperti keinginan orang tuanya. Bidang yang menjadi minatnya
adalah design grafis atau animasi komputer”.
“Jadi selama ini anak Ibu ketakutan akan profesi yang akan digelutinya
kelak, karena profesi tersebut bukan keinginannya. Dia sangat tidak
menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan manusia dan melibatkan
komunikasi langsung terlebih lagi dengan berdebat”.
“Oleh karena itu pada detik-detik terakhir mendekati penyelesaian
kuliah, tekanan itu muncul makin hebat menghantui dirinya. Anak ibu
ketakutan membayangkan dirinya berprofesi di bidang hukum dan berhadapan
dengan publik. Jadi dia berfikir sebagai jalan terakhir mengambil
keputusan untuk mogok dan tidak mau mengerjakan tugas akhirnya.” Kedua
orang tua anak tersebut kaget mendengarnya.
“ Sesungguhnya potensi-potensi itu bisa diketahui sejak jauh hari, sebelum anaknya menentukan sekolah dan bidang yang dipilih”.
“Jadi sekarang ini kami harus bagaimana? Kami tidak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut.” sela Bapak anak tersebut.
“ Begini Pak. Jika anak Bapak dipaksa terus untuk menyelesaikan tugas
akhirnya, bisa saja. Tetapi itu Bapak telah mewariskan sebuah
penderitaan seumur hidup. Sementara perjalanan hidup anak Bapak masih
sangat panjang. Jadi jika yang diwariskan adalah penderitaan, dia akan
merasakan dalam waktu yang sangat panjang. Jalan keluar yang jauh lebih
berharga, memberi kesempatan meraih sukses dalam hidupnya, sedangkan
untuk sukses bisa diraih apabila dia menggeluti profesi yang
dicintainya.”
Sampai akhirnya dicapai kesepakatan walau dengan berat hati, orang
tuanya mau menerima keinginan anaknya untuk tidak melanjutkan dan
menamatkan pendidikan Fakultas Hukum, melainkan pindah jurusan ke bidang
animasi komputer dengan syarat dia harus menyelesaikannya dengan baik.
Sungguh memprihatinkan, sudah terbayang betapa besar biaya sosial, waktu dan finansial yang harus di keluarkan keluarga tersebut. Walaupun orang tuanya cukup mampu, tetap saja akan rugi waktu dan tenaga karena harus memulai segalanya dari awal.
Sumber : Ayah Edy Punya Cerita - School with no goals
Keep Your Handwriting,
AGC - Jasa Analisa Tulisan Tangan
Graphology center, konsultan grafologi, mengetahui kepribadian, jasa analisa tulisan tangan, mengetahui bakat, mengenal karakter diri, pilih jurusan sekolah, pilih karier pekerjaan, tanda tangan, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri, homeschooling,home education,sekolah di rumah,unschooling
Continue Reading…